Lukman Sardi : Perizinan Atribut dan Lokasi Shooting Susah

Putra dari musisi Idris Sadri yang terkenal setelah memainkan film berjudul Laskar Pelangi saat ini tengah merambah karier baru dalam idustri perfilman Indonesia. Sebelumnya, diketahui bahwa Lukman Sardi dikenal sebagai seorang aktor yang punya totalitas, namun saat ini Lukman Sardi mencoba untuk membuat film atau sebagai Sutradara.

Menjadi seorang sutradara adalah sebuah pengalaman baru bagi aktor terbaik Indonesia tersebut, terlebih tema yang diangkat dalam film perdananya tersebut membuat dirinya susah mendapatkan perizinan lokasi shooting dan perizinan menggunakan atribut untuk tokoh-tokoh dalam film yang digarapnya tersebut. Apakah tema film yang diangkatnya tersebut?

Rupanya tema film yang diangkatnya adalah tentang kerusuhan mei tahun 1998, tragedi kemanusiaan yang sampai saat ini belum menemui titik terangnya tersebut karena korban penculikan yang masih belum ditemukan. Keputusan yang cukup berani diambil Lukman Sardi sebagai aktor yang baru saja hijrah menjadi seorang sutradara.

Dalam filmnya tersebut dibeberkan bahwa Lukman Sardi tidak mengekspos siapa dalang dari kerusuhan tersebut, tetapi lebih fokus pada sisi kemanusiaan yang terjadi sebelum, sesaat dan setelah tragedi yang kelam di alami oleh bangsa Indonesia. Seperti bagaimana kaum pribumi menjarah barang-barang milik etnis tiongkok yang dianggap kaya serta berbagai tragedi lain yang semuanya saling campur-baur tersebut.

Saat dirinya ditemui di sebuah hotel dibilangan Jakarta Selatan, Lukman Sardi mengungkapkan bahwa dirinya memanggil beberapa artis untuk berperan sebagai tokoh-tokoh di film tersebut, seperti menjadi seorang tentara, etnis tiongkok, etnis pribumi dan lain sebagainya. Beberapa nama ia sebutkan yaitu Doni Alamsyah, Fauzi Badillah dan masih banyak artis ternama lainnya.

Untuk menghasilkan situasi dan kejadian yang hampir sama seperti aslinya, Lukman Sardi mengaku sampai harus melakukan riset dan wawancara. Riset didapat dari melahap berbagai buku tentang kisah kelam bangsa Indonesia tersebut dan wawancara dilakukan dengan orang-orang penting seperti tokoh reformasi Amien Rais dan dari tentara yaitu Wiranto.

Konsultasi sama Amien Rais, pak Wiranto. Waktu itu aku baca buku Habibie,” kata Lukman.

Mengenai soal perizinan yang membuat produksi filmnya terhambat, dirinya mengakui perizinan yang terhambat itu adalah lokasi shooting yang bisa dia pakai serta soal penggunaan atribut militer dalam film ‘Di Balik Pintu Istana’.

“Perizinan lumayan susah, terutama dengan tentara-tentara, peminjaman senjata dan atribut. Kita harus meyakinkan dulu, kalau kita nggak akan menjelek-jelekkan mereka (tentara), kita hanya menggambarkan drama kehidupannya aja, nggak terlalu spesifik,” tukas Lukman.

Dalam akhir wawancara yang dilakukan, Lukman Sadri hanya menitip harapan dalam filmnya tersebut, harapan ini khusus diberikan untuk anak muda kelahiran diatas tahun 1995. Apakah harapan yang diungkapkan Lukman Sadri untuk anak muda atas filmnya tersebut?

“Aku pikir mei 1998 ini belum terlalu lama waktunya , tapi juga  banyak anak muda sekarang belum tau tentang kejadian ini. Generasi diatas tahun 1995 kan pasti belum tau. Intinya film ini aku buat untuk memberikan info kalau dulu ada lho kejadian Mei 1998. Trus aku ingin perlihatkan dari segi humanismenya,” tutup Lukman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s